VIVA SUMSEL.COM, PALEMBANG – Kualitas udara di Kota Palembang masih berada pada level berbahaya hingga Jumat (16/10/2026) pagi. Kondisi tersebut belum membaik meski upaya modifikasi cuaca dengan teknologi dry ice telah dilakukan pada Kamis (15/10/2026).
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, mengatakan tingkat polusi udara Palembang sejak dini hari hingga pagi masih tercatat berbahaya.
“Kondisi kualitas udara Palembang hari ini masih belum membaik, sejak pukul 00.00 hingga 08.00 WIB masih tercatat berbahaya,” ujar Wandayantolis, Jumat (16/10/2026).
Berdasarkan data yang tercatat di Stasiun Musi 2 Palembang, konsentrasi partikel PM2.5 menunjukkan angka yang sangat tinggi. Pada pukul 00.00 WIB, PM2.5 tercatat sebesar 609 µg/m³, kemudian naik menjadi 894,4 µg/m³ pada pukul 01.00 WIB.
Puncak polusi terjadi pada pukul 02.00 WIB dengan angka mencapai 929,1 µg/m³. Setelah itu, pada pukul 03.00 WIB sedikit turun menjadi 918,5 µg/m³. Memasuki pukul 04.00 WIB hingga pagi, konsentrasi mulai menurun signifikan di kisaran 325,4 hingga 247,7 µg/m³.
“Puncak buruknya kualitas udara terjadi pada pukul 01.00 sampai 03.00 WIB. Dalam 24 jam terakhir, rata-rata konsentrasi partikulat mencapai 424 µg/m³ atau berada pada level berbahaya,” jelasnya.
Wandayantolis menambahkan, setelah dilakukan penyemaian dry ice pada Kamis (16/10) pukul 12.00-13.00 WIB, kualitas udara sempat menunjukkan perbaikan. Satu jam setelah operasi, kadar PM2.5 turun dari kisaran 400-an menjadi 200-an µg/m³.
“Kemarin satu jam setelah operasi dry ice, terjadi penurunan PM2.5 yang terukur mulai pukul 14.00 WIB. Dalam uji coba kemarin, dilakukan penyemaian 800 kg di wilayah Palembang,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, buruknya kualitas udara Palembang disebabkan asap kiriman dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) dan sekitarnya.
Pihaknya mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan.
“Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kondisi udara masih buruk. Jika harus beraktivitas di luar, penggunaan masker sangat dianjurkan,” tutupnya.









