Contek Desa Terbaik Dunia Versi UNESCO ! Ini 5 Konsep Buat Bikin Desa Wisata di Sumsel Mendunia
VIVA SUMSEL.COM, PALEMBANG – Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali, telah menjadi bukti nyata bahwa wisata desa bisa mendunia.
Dinobatkan sebagai salah satu desa wisata terbaik dunia oleh UNESCO, keberhasilan Penglipuran bukan hanya karena keindahan alam, tetapi karena kuatnya sistem pengelolaan, pelestarian budaya, dan pemberdayaan ekonomi warga.
Melihat potensi besar yang dimiliki Sumatera Selatan, Pemerintah Provinsi Sumsel bersama Dinas Pariwisata Sumsel dan Pemerintah Kabupaten/Kota mendorong adaptasi konsep Penglipuran untuk dikembangkan di desa-desa wisata di Sumsel dengan ciri khas “jiwa Wong Kito”.
Penglipuran berhasil karena 3 kunci, Rapi, Berbudaya, dan Uangnya untuk Warga. Sumsel tidak perlu meniru 100% bentuk fisiknya. cukup ambil sistemnya, lalu isi dengan kearifan lokal Melayu, Sungai Musi, Songket, dan semangat.

Desa Penglipuran, Bali membentang dari utara ke selatan ramai dikunjungi wisatawan meskipun tidak dimusim liburan
Ada lima hal dari konsep Desa Penglipuran yang dapat diterapkan di desa wisata Sumsel, pertama soal tata ruang desa yang rapi dan beridentitas kuat.
Desa Penglipuran memiliki ciri rumah seragam satu garis, gapura khas, dan lingkungan bebas kabel semrawut.
Adaptasi di Sumsel, bisa dengan cara Pemerintah desa didorong untuk menyeragamkan identitas visual berbasis kearifan lokal.
Misalnya, desa di Musi Banyuasin (Muba) dapat menggunakan ornamen Rumah Limas, sementara desa di Ogan Komering Ilir (OKI) dapat menonjolkan motif Songket Ogan pada gerbang dan fasilitas umum.
Penataan zonasi untuk area hunian, UMKM, pertanian, dan wisata juga perlu ditegaskan, serta penertiban spanduk dan kabel udara untuk menjaga estetika desa.
Kemudian yang kedua, yaitu kearifan lokal dijadikan produk wisata utama di Penglipuran, aturan adat Tri Hita Karana dijaga ketat dan menjadi daya tarik wisatawan.
Sementara yang bisa diterapkan di Sumsel adalah tradisi dan budaya lokal seperti Tradisi Bedewo di Ogan Ilir, sedekah laut di pesisir Banyuasin, dan pacu Perahu bidar di Sungai Musi dapat dikemas menjadi atraksi wisata rutin.
Pelibatan tokoh adat dan pemangku untuk “Paket Ngobrol Bareng Sesepuh” serta pembuatan aturan desa wisata tertulis tentang kebersihan dan penggunaan bahasa daerah juga perlu digalakkan.
Yang ketiga adalah, ekonomi warga menjadi pilar utama, hampir seluruh usaha di Penglipuran dikelola oleh warga, mulai dari homestay, warung, hingga pemandu wisata. Sumsel, dapat mengadopsinya dengan Konsep “1 Rumah 1 Produk Unggulan”.
Contohnya, desa di Pagar Alam fokus pada kopi dan kerajinan bambu, desa di OKU pada pempek dan tenun, serta desa di Musi Rawas pada madu hutan dan anyaman purun.
Program ekonomi kerakyatan berbasis wisata dari pemerintah daerah akan disinergikan untuk melatih warga menjadi host homestay dan pelaku UMKM. Rencana “Pasar Desa” tiap akhir pekan dengan konsep “Pasar Sungai Musi” juga akan dikembangkan sebagai pusat penjualan produk lokal.
Poin ke empat adalah bagaimana menempatkan kebersihan dan kelestarian lingkungan sebagai harga mati.
Penglipuran menerapkan konsep zero plastik, memiliki bank sampah, dan menjaga hutan bambu.
Hal ini bisa dicontoh dengan Gerakan “Desa Bebas Sampah Plastik” akan dicanangkan dengan menyediakan titik isi ulang air minum.
Potensi alam seperti hutan di Lahat dan Pagar Alam akan dikembangkan menjadi hutan edukasi, Sungai Musi untuk wisata susur sungai, dan kebun karet/kopi untuk agroturisme. Program Bank Sampah Desa yang terintegrasi dengan program lingkungan Pemprov juga akan diperkuat.
Sementara, untuk poin terakhir yaitu menyangkut soal digitalisasi dan branding yang kuat, Penglipuran sukses karena mudah ditemukan secara digital dan memiliki branding yang kuat.
Desa di Sumsel bisa mengadopsinya dengan cara setiap desa wisata wajib memiliki akun media sosial resmi di Instagram dan TikTok dengan konten storytelling.
Pemuda desa akan dilatih menjadi content creator melalui program Sultan Muda agar dapat mempromosikan desanya sendiri.
Pengembangan paket wisata tematik seperti “Jejak Sriwijaya”, “Wisata Kopi Pagar Alam”, dan “Kampung Songket Palembang”.
Sebagai langkah awal, Pemprov Sumsel, Bersama Dinas Pariwisata dan Pemerintah Kabupaten/Kota bisa dimulai dengan menetapkan 3 hingga 5 desa percontohan pada tahun 2026.
Keberhasilan 1 desa diharapkan dapat menjadi efek domino bagi desa-desa lain di Sumsel.
Target wisata desa di Sumsel bukan hanya menarik wisatawan, tetapi juga bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa secara langsung.
Tri Hita Karana: Konsep Keharmonisan yang Jadi Dasar
Manager Operasional Desa Penglipuran, Provinsi Bali, I Made Ambarsika Abdi mengungkapkan konsep dasar yang dijalankan dari Desa Penglipuran adalah Tri Mandala.
Dari konsep itu Desa Penglipuran menjalankan nilai Tri Hita Karana, yaitu tentang keharmonisan.
Ada 3 hubungan: manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Itulah inti dari Tri Hita Karana.
“Dengan konsep ini, kami ingin menerapkan Community Based Tourism atau CBT. Artinya, masyarakat bukan hanya sebagai objek wisata, tetapi sebagai subjek. Masyarakat yang menjalankan, masyarakat yang merasakan manfaatnya,”ungkapnya, Selasa, (21/07/2026).
Ia menceritakan, Awal terbentuknya Desa Wisata Penglipuran itu sebenarnya sudah dimulai sejak lama.
Pada tahun 1993, Kabupaten Bangli mulai menetapkan Penglipuran sebagai objek wisata.
“Dulu memang belum disebut “desa wisata”. Desa wisata itu artinya kehidupan masyarakatnya sendiri yang menjadi daya tarik. Wisatawan datang bukan hanya berkunjung, tetapi untuk mendapatkan pengalaman.”tuturnya.
Sejak tahun 1993 itu, Ambarsika menambahkan dari sisi ekonomi ada perubahan besar.
Dulu rata-rata masyarakat hanya mengandalkan pertanian. Penghasilannya terbatas dan susah untuk biaya sekolah anak.
Setelah menjadi desa wisata, sumber pendapatan bertambah. Ada yang buka rumah makan, ada yang berdagang, ada yang berkebun dan mengelola homestay. Tingkat kesejahteraan masyarakat pun ikut naik.
“Pesan yang bisa diambil dari Penglipuran adalah: kembangkan wisata dengan kearifan lokal masing-masing. Jangan hanya meniru bentuknya, masyarakat tetap menjadi pelaku utama. Masukan-masukan dari luar negeri dan wisatawan diterima, selama itu untuk kebaikan dan tetap menjaga budaya serta adat istiadat, Intinya, buat masyarakat maju bersama, bukan tergusur,”ucapnya.
Senyum Adalah Kunci Pelayanan
Siapa sangka, usaha bernilai jutaan per bulan ini dirintis dari modal Rp500.000 saja. Nengah Sarini, salah satu warga Desa Penglipuran pemilik, Etalase 21, memulai bisnis persewaan pakaian adat dan souvenir sejak 2020.
Sebelumnya ia sempat mencoba usaha warung dan bisnis lain, namun belum berhasil.
Berbekal ketekunan dan pelayanan yang ramah, ia berhasil membalikkan keadaan.
Kini usahanya bukan hanya menopang ekonomi keluarga, tapi juga jadi salah satu daya tarik wisata di desanya.
“Kami ingin tamu merasa seperti di rumah sendiri. Tidak peduli dari mana asalnya, semua kami layani sama,” kata Nengah Sarini.
Menariknya, meski mengusung konsep tradisional, Etalase 21 sudah go digital. Transaksi dengan QRIS memudahkan wisatawan domestik dan mancanegara, sekaligus menunjukkan bahwa desa wisata juga bisa melek teknologi.
Editor : Muhardi Aanz









