Viva Sumsel

 Breaking News
  • Banjir Kepung Muratara, Enam Jembatan Gantung Putus 1 Orang Dilaporkan Hilang   VIVA SUMSEL, MUARATARA – Hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi di wilayah kabupaten Musi Rawas Utara pada selasa (16/04/2024) menyebabkan debit air sungai Rupit dan...
  • Wasit Badut Untungkan Timnas U-23 Qatar VIVA SUMSEL.COM, DOHA  – Kepemimpinan Wasit saat Timna Indonesia U 23 kalah dari Qatar membuka mata pecinta sepak bola. Apakah itu sebabnya Qatar hanya jadi badut saat lawan negara luar Asia?...
  • Siomay Jadi Pangsit Terbaik Dunia 2024 Versi Taste Atlas VIVA SUMSEL.COM – Siomay menduduki peringkat pertama dalam daftar “Top 100 Dumplings in The World” (Top 100 Pangsit di Dunia) versi platform katalog makanan dan minuman di dunia, Taste Atlas....
  • Asyik Berenang, Bocah 5 Tahun Hanyut di Sungai Kikim VIVA SUMSEL.COM, LAHAT– Afifah (5) bocah perempuan warga Desa sukarame Kecamatan Kikim barat Kabupaten Lahat, hanyut dan tenggelam terbawa derasnya arus sungai kikim pada Minggu (14/04/2024) Kepala Kantor Basarnas Palembang...
  • HIKKMA OI Dukung Penuh RD dan MY Maju Pilkada 2024 VIVA SUMSEL.COM, PALEMBANG – Dalam sebuah acara Halal Bi Halal yang diadakan oleh Himpunan Keluarga Kecamatan Muara Kuang Ogan Ilir (HIKKMA OI) di Auditorium Balaputra Dewa, Palembang pada Minggu (14/4/2024),...

Dampak PPDB Sistem Zonasi, SMA PGRI 7 Banjarmasin Hanya Mendapat 11 Siswa

Dampak PPDB Sistem Zonasi, SMA PGRI 7 Banjarmasin Hanya Mendapat 11 Siswa
Juli 19
13:59 2019

VIVA SUMSEL.COM, Banjarmasin – PPDB alias Penerimaan Peserta Didik Baru tingkat SMA/SMK di Kalsel berdampak terhadap sekolah swasta.

Di Banjarmasin, sejumlah SMA swasta masih kekurangan siswa. Misalnya SMA PGRI 7 Banjarmasin, hingga Selasa (16/7) yang hanya mendapatkan 11 orang siswa.

Kepala Sekolah SMA PGRI 7 Banjarmasin, Syahrani, mengatakan, animo siswa yang mendaftar semakin parah. Tahun 2017 lalu ada masih ada 40 orang, sedangkan tahun 2018 naik menjadi 46 orang. “Semenjak saya mengajar tahun 2006, tahun 2019 ini yang paling terpuruk,” ucapnya lirih.

Menurutnya, penurunan ini disebabkan banyak hal, diantaranya sistem zonasi serta kebijakan pusat mengenai “kartu sakti” atau Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang bisa disertakan untuk mendaftar bagi siswa yang kurang mampu. Mereka bisa mendaftar di sekolah-sekolah negeri. “Kabar yang didapat, sekolah negeri membuka kelas baru,” tengaranya.

Lalu apakah aktivitas belajar-mengajar akan terus berjalan? Dia mengamini. “Tapi kami akan membicarakan hal ini dengan pihak yayasan,” ucapnya.

Nasib yang lebih baik dimiliki SMA PGRI 1 Banjarmasin. Kepala Sekolah Edy Kisworo mengatakan jumlah siswa yang mendaftar masih bisa memenuhi satu kelas. “Tahun ini 23 orang yang mendaftar,” ucapnya.

Memang jumlah ini menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2017 jumlah pendaftar di sekolah yang berada di Jalan Sultan Adam Banjarmasin ini bahkan sempat sebanyak 80 siswa. Penurunan kemudian mulai terjadi di 2018, SMA PGRI 1 hanya mendapatkan 54 siswa.

Menurunnya jumlah siswa secara signifikan membuat pihaknya gamang dengan metode Penerapan kurikulum 2013 yang mengharuskan penerapan jurusan. Untuk menyiasati ini, sekolah akan merundingkan dengan seluruh siswa.

“Kita menyebarkan angket kepada siswa, jurusan apa yang diminati itu yang akan kita buat,” pungkasnya.

Berbeda nasibnya dengan SMA PGRI 2. Sekolah ini lebih beruntung dibandingkan sekolah swasta lainnya. Meski animo pendaftar mengalami penurunan, tapi tidak terlalu signifikan. “Jumlah siswa yang kita terima tahun ini 103 orang,” kata Kepsek H Husaini.

Masa kejayaan SMA PGRI 2 sebagaimana sekolah PGRI lainnya, memang sudah berlalu. Di masa jayanya tahun 1990, jumlah pendaftar bahkan sampai 1.000 orang. Semenjak diangkat oleh yayasan menjadi kepsek di sekolah tersebut tahun 2014 silam, Husaini mengatakan dia tetap berupaya agar sekolah tersebut tetap diminati masyarakat.

Apalagi lokasi bangunan SMA PGRI 2 berada di lingkungan yang strategis di Banjarmasin Barat. Lahan bangunan juga luas. “Lingkungan dan kondisi sekolah yang bagus lebih menarik minat para orangtua untuk mendaftarkan anaknya,” pungkasnya.

Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Provinsi Kalsel, Hj Mardiana, mengatakan ada beberapa faktor kenapa orang lebih memilih sekolah negeri ketimbang swasta. Pertama faktor biaya sekolah. “Masyarakat tentu memilih yang gratis,” ucapnya.

Kemudian faktor zonasi. Mski nilainya tinggi tapi siswa tetap harus mencari sekolah yang paling dekat dengan tempat tinggalnya.

Kemudian faktor fasilitas pembiayaan, semacam Kartu Indonesia Pintar (KIP). “Ini memberikan kemudahan bagi warga kurang mampu untuk bersekolah di negeri,” ujarnya.

Dia mengatakan sekolah sebaiknya tidak usah menggunakan sistem zonasi karena bisa membuat sekolah swasta kehilangan pendaftar.

“Kembali saja menggunakan sistem penerimaan sebelumnya jadi anak yang punya kemampuan dan nilai tinggi bisa memilih sekolah yang diinginkannya,” ujarnya. (jpnn)



About Author

redaksi Viva Sumsel

redaksi Viva Sumsel

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Only registered users can comment.

Email Subcribers

Loading

MEDIA PATHNER

Banner Partnership

BANNER PARTNERSHIP

Idul fitri 1445 h

Kalender

Juli 2019
S S R K J S M
« Jun   Agu »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Banner PARTNERSHIP

Karir Pad Widget