Viva Sumsel

 Breaking News

QRIS di Ruang Galeri : Katalis Ekonomi Inklusif dan Berkelanjutan di Sumatera Selatan

QRIS di Ruang Galeri : Katalis Ekonomi Inklusif dan Berkelanjutan di Sumatera Selatan
Juni 26
13:18 2026

VIVA SUMEL.COM, PALEMBANG – Di tengah hiruk-pikuk Metropolis, ekonomi Sumsel menghadapi paradoks. Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi provinsi ini konsisten di atas 5% prapandemi. Di sisi lain, 60% lebih pelaku usaha masih beroperasi di sektor informal. Uang berputar, tapi jejaknya hilang.

Di sinilah digitalisasi sistem pembayaran masuk. Bukan sebagai tren, tapi sebagai katalis. Ketika Vira (26) di Galeri Souvenir Masayu Collection menerima bayaran via QRIS, ia tidak hanya menjual accesoris produk perhiasan tembaga dan perak khas Palembang. Ia sedang mencatat sejarah perubahan peradaban menuju tren ekonomi digital masa kini.

 

Potret Data dan Kebijakan

Data Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan menunjukan bahwa penggunaan QRIS di Sumatera Selatan menampakan tren pertumbuhan yang kuat dan berkelanjutan.

Hingga Maret 2026, nominal transaksi QRIS di Sumatera Selatan mencapai Rp2,97 triliun atau tumbuh 46,11% (yoy), dengan volume transaksi mencapai 29,53 juta transaksi atau meningkat 59,63% (yoy).

Dari sisi akseptasi, jumlah merchant QRIS telah mencapai 1,15 juta merchant, sementara jumlah pengguna QRIS mencapai 1,54 juta pengguna.

Tren pertumbuhan itu terus mengalami kenaikan. Pada Mei 2026, nominal transaksi QRIS telah mencapai hampir Rp14 triliun dengan lebih dari 1,23 juta merchant, dan per April 2026 pengguna QRIS mencapai 1,57 juta pengguna.

“Sebuah capaian yang patut diapresiasi, fenomena ini menggambarkan bahwa era digital telah membangun kesadaran masyarakat sumsel untuk menggunakan transaksi secara mudah, efektif dan efsien,”tutur Bambang, Jumat (25/06/2026).

Disisi lain lanjut Bambang, perluasan penggunaan QRIS masih perlu dilakukan dengan cara meningkatkan literasi pembayaran digital sehingga dapat terbangun ekosistem ekonomi dan keuangan digital di Sumatera Selatan. Maka dari itu event Digital Kita Galo (DKG) dipandang sebagai langkah tepat mencapai tujuan yang diharapkan.

 

Rintangan Nyata di Lapangan

Asisten II Bidang Ekonomi Keuangan dan Pembangunan Setda Provinsi Sumatera Selatan, Ir Basyaruddin Akhmad, M.Sc menyebut digitalisasi pembayaran memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah

Namun jalan menuju ekonomi digital berkelanjutan tidak mulus. Tiga batu sandungan masih menghadang. Pertama, literasi digital. Banyak pelaku UMKM takut saldo “hilang” atau kena tipu. Kedua, konektivitas.

8% wilayah Sumsel, terutama di Muratara dan OKU Selatan, masih blank spot. Ketiga, mentalitas cash is king. Budaya “cash lebih aman” sulit diubah dalam semalam.

Di sinilah peran edukasi jadi krusial. Tanpa edukasi, digitalisasi hanya akan memperlebar jurang antara UMKM naik kelas dan UMKM yang tertinggal.

 “Saya berharap kegiatan Gemilang Palembang Raya x Digital Kito Galo ke-7 Tahun 2026 dapat menjadi wadah edukasi bagi masyarakat Sumatera Selatan,”harapnya.

Asisten II Bidang Ekonomi Keuangan dan Pembangunan Setda Provinsi Sumatera Selatan, Ir Basyaruddin Akhmad, M.Sc meninjau booth pada Event DKG x GPR 2026

 

Langkah Jitu Tepat Sasaran

Asisten II Perekonomian Setda Palembang, Isniani Madani menilai sinergi BI dan Pemkot adalah langkah tepat sasaran.

 “Kolaborasi ini mempercepat digitalisasi pembayaran hingga ke ujung gerobak UMKM, warung kuliner, dan loket pariwisata,” ujarnya.

Asisten II Perekonomian Setda Palembang, Isniani Madani hadi dalam furum BESAMO, Digital Kito Galo 7 2026 di kantor BI Sumsel

 

Jurus Ampuh Bikin Pariwisata Makin Dilirik

Kepala Dinas Pariwisata Palembang, M. Irman menambahkan event Gemilang Palembang Raya x DKG 7th 2026 jadi jurus ampuh.

“Bukan cuma bikin wisata Palembang makin dilirik, tapi juga ngerek produk lokal tembus pasar yang lebih luas lewat QRIS dan pembayaran digital,” tegasnya.

Kepala Dinas Pariwisata Palembang, M. Irman, Apresiasi penuh event GPR Vs DKG 2026 sebagai upaya peningkatan pariwisata Palembang

 

Bunyi “Ting” yang Menyejukan Hati

Vira, Owner Galeri Souvenir Masayu Collection, merasakan langsung. Dulu ia jual secara konvensional, Kini Galery yang dikelolanya menerima pembayaran via e-wallet maupun QRIS.

“Awalnya saya nolak. HP jadul, takut salah pencet. Tapi anak saya ajarin. Sekarang saya tahu efektifitas pembayaran tanpa harus transaksi tunai, bunyi ting, transaksipun clear” ujar Vira sambal menyebut lokasi Galeri  nya berada di Jalan Perindustrian, Kecamatan Sukarami, Kota Palembang, saat dibicangi di booth Digital Kito Galo x Gemilang Palembang Raya, di Benteng Kuot Besak, Jumat (25/06/2026).

Ia melihat sesuatu tersebut tidak mulai dengan sistem canggih. Ia mulai dengan satu langkah berani mencoba menambah literasi inklusi keuangan.

Dari Vira kita belajar, inklusivitas bukan menunggu semua orang jadi ahli IT. Inklusivitas adalah memastikan langkah paling kecil pun tetap dihitung sistem.

Vira, Owner Galeri Souvenir Masayu Colllection merasakan dampak langsung dari sistem pembayaran digital, dulu konvesional sekarang pakai QRIS, transaski jadi lebih mudah omzet pun naik

 

Tiga Katalis Utama

Agar digitalisasi benar-benar jadi katalis berkelanjutan ada 3 langkah harus jalan beriringan yaitu pertama, Edukasi Masif BI, Pemprov termasuk perguruan tinggi harus turun ke pasar, bukan cuma seminar di hotel.

 Literasi harus pakai bahasa “emak-emak”. Kemudian yang kedua yaitu dengan Perluasan Infrastruktur, kolaborasi dengan steakholder terkait dan ketiga adalah dengan Insentif dan Regulasi.

Pemda bisa mewajibkan transaksi non-tunai untuk retribusi pasar dan pajak daerah, sekaligus memberi insentif merchant fee 0% bagi UMKM mikro.

Pada akhirnya, digitalisasi pembayaran bukan soal mengganti uang kertas dengan kode.

Ini bukan soal mengganti paradigma dari ekonomi tunai yang gelap menjadi ekonomi data yang terang.

Masa depan ekonomi Sumsel tidak ditentukan oleh seberapa cepat kita mengadopsi teknologi, tetapi oleh seberapa konsisten kita memastikan tidak ada Vira atau pelaku ekonomi lain yang tertinggal karena digilas jaman.

Di tengah derasnya arus informasi dan godaan cuan instan, daerah yang bertahan bukanlah yang paling cepat, melainkan yang paling paham dan paling inklusif.

Karena ekonomi berkelanjutan yang sejati adalah ekonomi yang napasnya sampai kepada semua pelaku ekonomi bahkan sampai dipelosok sekalipun, bukan hanya berhenti di pusat kota. Dan napas itu, kini berbunyi “ting”.

 

Editor : Muhardi Aanz

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share

About Author

redaksi Viva Sumsel

redaksi Viva Sumsel

Related Articles

Email Subcribers

Loading

MEDIA PATHNER

BANNER PARTNERSHIP

iklan

Kalender

Juni 2026
S S R K J S M
« Mei    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Banner PARTNERSHIP